Makna filosofis ‘tumpeng’ Khas Indonesia

Lebih dari sekedar makanan: ‘tumpeng’ dan lauk pauknya melambangkan nilai-nilai filosofis nenek moyang orang Indonesia saat ini. 

Sajian nasi tumpeng berbentuk kerucut yang dikenal sebagai tumpeng merupakan bagian tak terpisahkan dari perayaan dan acara penting lainnya di Indonesia.

Meskipun popularitas tumpeng tidak diragukan lagi di semua lapisan masyarakat Indonesia, pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai filosofisnya masih kurang jelas.

Bagi Raden Ayu Koes Dwayati Soegondo, tumpeng, lebih dari sekadar kuliner khas zaman dulu, sarat makna tersembunyi.

Ayu yang telah bekerja sebagai pengajar tumpeng sejak tahun 1970-an menggambarkan bagaimana tumpeng melambangkan perjalanan hidup.

“Filosofi dasarnya adalah semakin banyak penderitaan yang harus kita tanggung, semakin dewasa kita, sebagaimana tercermin dalam proses mempersiapkan tumpeng dengan menimbun beras hingga menjadi anteng (mantap),” katanya saat lokakarya tumpeng baru-baru ini di Galeri Batik & Seni Soendari di Malang, Jawa Timur.

Lebih dari sekedar makanan: ‘tumpeng’ dan lauk pauknya melambangkan nilai-nilai filosofis nenek moyang orang Indonesia saat ini. (JP/Nedi Putra AW)

Menurut Ayu, makna lain dari tumpeng ini terdapat pada tumpengnya yang runcing, melambangkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bentuknya juga mengacu pada lanskap pegunungan di banyak wilayah Indonesia, khususnya Jawa. Piring di sekitar kerucut menandakan vegetasi, hutan, dan satwa liar.

catering

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *