Cara Menggoreng Ayam Goreng Tepung Supaya Tetap Renyah

Salah satu menu lauk yang jadi favorit hampir seluruh orang adalah ayam goreng, terbukti ayam sering menjadi lauk menu catering makanan. Lebih oke ulang terkecuali digorengnya mengfungsikan tepung. Kayak restoran cepat saji yang ramai banget itu tuh, orang-orang mampu lahap makannya dan nggak bosan untuk balik ulang dan lagi. Tapi nggak memungkiri sih, ayam goreng tepungnya tuh sebetulnya kriuk dan gurih sekali.

Sayangnya, sementara coba-coba buat sendiri di rumah, ayam goreng tepungnya nggak sesuai ekspektasi. Inginnya kulitnya keriting, kriuk maksimal, dan tetap renyah meski udah lama didinginkan, namun hasilnya tetap garing sementara panas dan melempem sementara dingin. Jangan patah stimulan dulu, coba deh ikuti rahasia buat ayam goreng tepung kriuk ala Kami berikut ini. Siapa mengetahui tersedia yang terlewat olehmu.

1. Langkah pertama, siapkan ayamnya dulu, ya! Pilih ayam yang tetap segar, cuci bersih, lalu 

potong dan sayat-sayat supaya nantinya bumbu lebih meresap ke di dalam dagingnya

2. Bumbui daging ayam dengan campuran bubuk bawang putih, lada, kaldu ayam bubuk dan garam. Aduk rata lalu diamkan selama tidak cukup lebih 30 menit hingga bumbu meresap

Kamu pun boleh menyimpan ayam yang udah dibumbui ke di dalam freezer.

3. Selanjutnya, mengakibatkan adonan kering. Kuncinya adalah mengkombinasikan tepung terigu dan tepung maizena dengan perbandingan 80:20

Adonan ini mutlak diperlukan supaya ayam goreng tepung renyah dan tahan lama. Nah, untuk takarannya sendiri, perumpamaan di bawah ini mampu jadi panduanmu untuk membandingkan takaran bahan yang satu dengan lainnya.

catering

No Comments

Cara Memasak Bebek Agar Empuk

Agar olahan daging bebek yang biasa menjadi menu catering kantoran ini empuk dan tidak bau amis, anda sanggup mengolahnya lebih-lebih dahulu sebelum saat memasak daging bebek menjadi hidangan yang diinginkan. Nah, tersebut ini langkah memasak daging bebek sehingga empuk dan tidak bau amis.

Ada sebagian langkah yang sanggup anda jalankan sehingga daging bebek empuk dan tidak bau amis seperti tersebut ini.

Bersihkan Daging Bebek Sebelum Diolah

Setelah daging bebek disiapkan untuk diolah, perihal pertama kali yang perlu anda jalankan yaitu membersihkan daging bebek lebih-lebih dahulu. Anda perlu mencucinya hingga benar-benar bersih sehingga daging bebek tidak bau amis dikala diolah.

Pertama, silahkan ambil bebek yang udah anda siapkan.

Kemudian membersihkan tiap tiap anggota bebek, baik itu bulunya, jeroan bebek, hingga ke anggota berutunya yang menjadi salah satu sumber bau amis.

Setelah seluruh anggota bebek dibersihkan, anda sanggup meniriskannya lebih-lebih dahulu.

Jika daging bebek sudah benar-benar bersih, anda sanggup segera memotongnya sesuai selera. Anda sanggup memotongnya sesuai dengan olahan bebek yang bakal anda buat.

Nah, sebagai langkah memotong bebek yang baik dan benar sehingga tekstur dagingnya tidak dipengaruhi yaitu memotong daging bebek dengan ukuran sedang, tidak benar-benar besar ataupun benar-benar kecil.

Gunakan Daun Pepaya Untuk Mencuci Daging Bebek

Jika daging bebek udah selesai dipotong-potong, anda sanggup ulang mencucinya. Berbeda dengan langkah membasuh daging bebek yang pertama, kali ini anda mencucinya dengan memanfaatkan daun pepaya. Daun pepaya diketahui sanggup menetralkan aroma amis berasal dari daging bebek.

Caranya yaitu, silahkan siapkan daun pepaya secukupnya saja. Lalu cuci hingga bersih.

Selanjutnya siapkan air yang udah dicampurkan dengan daun pepaya yang bakal digunakan untuk membasuh daging bebek.

Anda sanggup memanfaatkan air tersebut untuk membasuh daging bebek. Jika udah selesai, anda sanggup mencucinya ulang dengan memanfaatkan air biasa. Tiriskan.

catering

No Comments

Apakah Sate Terinspirasi dari Kebab?

Ada sejumlah versi asal-usul sate. Buku Balinese Food: The Traditional Cuisine & Food Culture of Bali (2014) karya Vivienne Kruger, misalnya, menyebut bahwa sate atau satay berasal berasal dari makna Tamil yaitu sathai. 

Ini untuk menyebut potongan daging yang diasinkan selanjutnya dipanggang bersama tusuk kayu dan dicelupkan ke didalam saus khusus sebelum dimakan. Cara mengolah daging kebab khas Turki dan Arab menjadi ide bagi kaum saudagar muslim Tamil dan Gujarat yang berasal berasal dari Asia Selatan (India) untuk menciptakan kuliner daging bakar. Mereka mempunyai resep itu ke Asia Tenggara, termasuk Nusantara. 

Sebelumnya, orang Jawa memasak daging bersama cara direbus, terutama untuk menu catering pernikahan. Setelah mengenal kebab berkat interaksi bersama kaum pedagang Tamil, Gujarat, termasuk Arab dan juga Turki, mereka menjadi lebih senang membakar atau memanggang daging sebelum disantap. Hal itu berlanjut hingga sekarang. Di Indonesia, sate kambing atau domba menjadi kesukaan warga keturunan Arab. 

Olahan ini termasuk populer digunakan terhadap waktu perayaan Idul Adha waktu daging kambing dan sapi melimpah. Tak cuma bangsa India dan Arab yang dikait-kaitkan bersama histori sate, Cina pun demikian. Dilansir Medium.com, tersedia termasuk teori lain yang menyatakan bahwa kata sate berasal berasal dari makna Minnan –salah satu dialeg bahasa di Cina– yaitu sa tae bak yang bermakna tiga potong daging.

catering

No Comments

Makna filosofis ‘tumpeng’ Khas Indonesia

Lebih dari sekedar makanan: ‘tumpeng’ dan lauk pauknya melambangkan nilai-nilai filosofis nenek moyang orang Indonesia saat ini. 

Sajian nasi tumpeng berbentuk kerucut yang dikenal sebagai tumpeng merupakan bagian tak terpisahkan dari perayaan dan acara penting lainnya di Indonesia.

Meskipun popularitas tumpeng tidak diragukan lagi di semua lapisan masyarakat Indonesia, pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai filosofisnya masih kurang jelas.

Bagi Raden Ayu Koes Dwayati Soegondo, tumpeng, lebih dari sekadar kuliner khas zaman dulu, sarat makna tersembunyi.

Ayu yang telah bekerja sebagai pengajar tumpeng sejak tahun 1970-an menggambarkan bagaimana tumpeng melambangkan perjalanan hidup.

“Filosofi dasarnya adalah semakin banyak penderitaan yang harus kita tanggung, semakin dewasa kita, sebagaimana tercermin dalam proses mempersiapkan tumpeng dengan menimbun beras hingga menjadi anteng (mantap),” katanya saat lokakarya tumpeng baru-baru ini di Galeri Batik & Seni Soendari di Malang, Jawa Timur.

Lebih dari sekedar makanan: ‘tumpeng’ dan lauk pauknya melambangkan nilai-nilai filosofis nenek moyang orang Indonesia saat ini. (JP/Nedi Putra AW)

Menurut Ayu, makna lain dari tumpeng ini terdapat pada tumpengnya yang runcing, melambangkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bentuknya juga mengacu pada lanskap pegunungan di banyak wilayah Indonesia, khususnya Jawa. Piring di sekitar kerucut menandakan vegetasi, hutan, dan satwa liar.

catering

No Comments

Sambal Terasi, Sambal Nikmat untuk Nasi

Bagi orang Indonesia rasanya tidak cukup nikmat seumpama makan nasi tanpa didampingi sambal. Salah satu sambal yang memiliki banyak fans adalah sambal terasi. Rasa sambal terasi yang pedas gurih dengan semburat aroma terasi yang khas sebetulnya dapat sebabkan selera makan bertambah. Kalau tersedia sambal terasi, misalnya di nasi tumpeng,  dimakan hanya dengan telur dan ikan asin saja sudah luar biasa nikmat.

Sesuai namanya, sambal terasi terbuat dari campuran cabai dan terasi. Meski terlihat sederhana, sambal terasi harus dibikin dengan cermat supaya rasanya jadi sedap. Kunci di dalam sebabkan resep sambal terasi terdapat pada pemilihan terasinya.

Baca juga : 5 Olahan Nasi Lezat Khas Nusantara

Untuk menghasilkan terasi yang enak, memakai terasi berkualitas bagus, layaknya terasi udang dari Lombok, Bangka, atau Sidoarjo. Selain itu, terasi termasuk harus dibakar di atas bara api lebih-lebih dahulu sampai aromanya harum dan matang. Ciri terasi yang bagus adalah yang mengeluarkan aroma segar dan harum seafood.

Baca juga : Enam Jenis Nasi Tumpeng Khas Indonesia dari Berbagai Daerah

Inilah Asal Usul Sosis

Dituturkan di dalam sebuah artikel berasal dari history.com, asal mula sosis sanggup ditelusuri ulang ke era Kaisar Romawi yang terkenal, Nero, dan juru masaknya, Gayus.

Mereka berdua hidup pada pertengahan abad pertama Masehi; dan Gayus mungkin ialah orang pertama yang menciptakan sosis. Menariknya, ia memulainya berasal dari ketidaksengajaan.

Pada zaman Romawi, babi biasanya dibiarkan kelaparan sepanjang satu minggu, sebelum disembelih. 

Kala itu, Gayus sedang mengawasi dapurnya dan ia mengetahui bahwa seekor babi sudah dipanggang seutuhnya tanpa dibersihkan terlebih dahulu (terutama anggota organ dalamnya). Ia kemudian menusukkan pisau ke perut babi, untuk melihat apakah daging panggang itu sanggup dimakan, dan keluarlah ususnya: yang kosong gara-gara diet kelaparan dan mengembang gara-gara panas.  

Baca juga : Manfaat Telur Puyuh Bagi Kesehatan

Menurut legenda, sementara itu Gayus berseru,

“Saya sudah menemukan suatu hal yang amat penting!”

Ia kemudian isikan usus babi bersama daging giling, dicampur bersama rempah-rempah, dan gandum. Walhasil, terciptalah sosis pertama di dunia. 

Setelah itu, sosis menyebar ke semua Eropa, dan hingga ke Jerman. Orang Jerman kemudian mengklaim sosis sebagai milik mereka; dan mereka pun menciptakan sejumlah menu sosis berbeda, untuk dinikmati dengan bir dan kraut (kubis yang diiris halus dan difermentasi).
Berdasarkan penelusuran historis itu, sesungguhnya tidak benar menyebut Jerman sebagai negara pertama yang menciptakan sosis. Tetapi, klaim mereka sebagai “negeri sosis” sesungguhnya mampu dimaklum.  Mereka terbukti berhasil mengembangkan bervariasi menu sosis; dan setidaknya sekarang telah miliki 1.500 jenis sosis. Di indonesia, sosis biasanya menjadi lauk makanan, misalnya lauk nasi tumpeng.

Baca juga : 5 This typical Indonesian cake made of grated coconut is delicious and addicting

5 This typical Indonesian cake made of grated coconut is delicious and addicting

As a country with a tropical climate, coconut trees thrive all year round in various regions in Indonesia. Coconut itself is known as a multipurpose tree, because almost all parts of it can be used.

Coconut fruit is the most valuable part of the economy. You can enjoy the young coconut fruit directly into a refreshing young coconut ice. Especially if it is consumed in the hot sun or while on the beach.

Not only young coconut ice, there are many types of Indonesian culinary delights included in snack box jakarta that also use coconut as a mixture. Not a few typical Indonesian cakes that use grated coconut as the basic ingredient for making them.

also read : How to Make Klepon, Indonesia’s Famous Traditional Snack

1.Pancong Cake.

Pancong cake is a typical Betawi cake made from rice flour, coconut milk and coarsely grated coconut. The cake, also known as gandos and bandros, is printed in a semicircular mold and then baked over a fire until cooked. Usually pancong cake is served with a sprinkling of sugar to add sweetness.

2. Rangi Cake.

This cake, which is also typical of Betawi, at a glance has a similar appearance to a pancong cake. However, they are actually different cakes, even though they both use grated coconut in the dough. This cake is called rangi cake because it smells good when baked. The rangi cake is made from sago flour dough mixed with coarsely grated coconut then served with boiled brown sugar with jackfruit and thickened with a little sago flour.

3. Gemblong.

This cake, which is a favorite market snack for many people, is made from white glutinous rice flour, coconut milk, margarine and half-aged grated coconut. Knead gemblong dough until it is smooth and then shaped like a ball, then fried and then coated with brown sugar or dissolved palm sugar.

4. Wingko Babat.

This cake, which is often used as a souvenir, is made from grated coconut, glutinous rice flour and sugar. After all the dough is mixed evenly, the wingko tripe is shaped into a flat round and then baked or baked until cooked. The grated coconut used for wingko must use young coconut so that the texture of the wingko tripe remains soft even though it’s cold.

5. Cake sagon.

This cake, which is usually used as a typical Lebaran cake, is made from glutinous rice flour, a mixture of old grated coconut, margarine, sugar and vanilla. This cake has a sweet and savory taste. Uniquely, although from the outside the texture of the sagon cake looks solid and hard, but when bitten, the texture is very soft. The fragrance is also very tempting.

and also read about : Difference between Palm Sugar and Java Sugar

The Characteristic of Sundanese Cuisine- Part 3

The variety of types of Sundanese cuisine is not inferior to the culinary wealth of other tribes in Indonesia. In general, there are appetizers such as Soto Bandung. There are also main side dishes for rice  and meal box such as hayam bakakak, hideung squid, fried potato liver sauce, jengkol stew, ulukutek leunca, ase chilli hejo, oblo-oblo tempe pete chili hejo, kasreng hejo kacang hejo, and others.

The uniqueness of traditional Sundanese food is found in street food. Street food is a group of main, light, complementary, and dessert foods that are sold or sold in general. These foods can be obtained from sellers who live (in markets or restaurants) or peddle their food around. Street food is usually served in unique ways, from the manufacturing technique, the packaging design, to how to sell it.

also read : The Characteristic of Sundanese Cuisine-Part 1

One of the variations of traditional snack food packaging is using wrappers or pincuk. For example, banana leaves are the leaves most widely used as food wrappers. Apart from being cheap and easy to get everywhere, banana leaves are wide and can grow without being too affected by the seasonal fruit cycle. These leaves are often used in a wet state (heated near a fire). Traditional food packaging sourced from nature (leaves, trees, roots) is very representative of traditional humans who live from and for nature.

Pasundan is not only known for its natural beauty and the friendliness of its people, and when it comes to Asakan (food) there is no doubt about its diversity, because Pasundan is indeed rich in the image of a distinctive culinary taste. Moreover, the typical Sundanese Asakan is indeed known at a price that is affordable by all groups. No wonder people from outside the city deliberately come to West Java to taste Sundanese specialties. Even lately, this traditional food is being hunted by many lovers.

Various characteristics of the traditional Sundanese Asakan are a manifestation of the richness of cultural heritage which is not just filling the stomach but a sensation of special food from a region.

also read : The characteristic of Sundanese Cuisine-Part 2

The Characteristic of Sundanese Cuisine-Part 2

Sambal terasi is the most common companion seasoning in Sundanese dishes, eaten with lalap or tofu and fried tempeh, often served in a meal box. Sayur asem with tamarind sauce is probably the most popular vegetable in Sundanese dishes. Other popular types of vegetables are Soto Bandung, a type of soto with sliced ​​beef and radish, and shaking noodles, a type of noodle with beef and gravel.

There are many types of chilies that are used to make chili sauce and seasonings. There are green chilies, red chilies, bird’s eye chilies or hejo cengek, cengek beureum, fat chilies, peppers, and so on. The Sundanese deliberately plant various types of chilies and vegetables in their respective yards or gardens without being given chemical fertilizers and preservatives.

also read : Manfaat Menggunakan Daun Pisang untuk Membungkus Makanan

Apart from being spicy, Sundanese specialties also have a sweet taste (fishy-fishy) which is usually classified as a dessert. Among them are putri noong, klepon, cocorot, gurandil, awug, katimus, misro, and so on. There are also typical drinks such as goyobod ice or cincau ice. Another Sundanese food group is usually termed hahampangan or snack. Among them are keremes, opak, kolontong, borondong, kalua jeruk, kerupuk melarat, semprong, and so on.

Another distinctive feature of the traditional Sundanese Asakan is in its creativity that uses basic ingredients that most people consider useless. For example, stir fry genjer, whose basic ingredients are taken from weeds between rice plants. Kadedemes or cassava peel, which are often considered poisonous, are fried impun crisps made from small fish that live wild in rivers, or tutut, a conch pest that lives in rice fields. In hideung’s squid dish, the black color comes from the squid ink which is deliberately not thrown away. Also chilli fried beef liver or asakan made from beef and chicken offal. In some countries these ingredients are not processed into food because of high cholesterol levels.

also read : The Characteristic of Sundanese Cuisine – Part 1

The Characteristic of Sundanese Cuisine-Part 1

Sundanese traditional food is unique when compared to other traditional foods. In general, Sundanese traditional food tends to be salty, and has a characteristic freshness in the use of its ingredients, namely local raw vegetables (lalapan), chili paste, tofu and tempeh, salted fish, processed pepes. This condition is influenced by the culture of the traditional Sundanese people who are close to nature. Apart from their main livelihood is farming, Sundanese traditional people have an exotic natural environment. Sundanese food is often served in a meal box

Lalap is famous for being eaten with chili sauce and also karedok showing the Sundanese penchant for fresh raw vegetables. In contrast to Minangkabau cuisine which is rich and spicy with thick curry and coconut milk ingredients, Sundanese cuisine features a light, simple, and clear taste; ranging from savory salty, fresh sour, mild sweet, and spicy.

The traditional Sundanese traditional dishes or Asakan of the past have a dominant spicy taste. Because almost every vegetable dish or processed meat, the legacy of our ancient ancestors, always use chili as a spice which is deliberately made as body warmers in the middle of a cool climate. Even if you don’t use spicy spices, you must have chili sauce served with fresh vegetables.

also read : Bacem, Teknik Mengawetkan Asal Jawa Tengah

In Parahyangan’s culinary repertoire, chili sauce can reach dozens of types. Instant chili sauce includes chili sauce, combrang chili sauce, chili sauce, plow sauce, peanut sauce, and green chili sauce. There are also many traditional Sundanese Asakan in the past that used chili as a spice. Such as chili fried potato liver, mustofa potato fried chili sauce, ase chilli hejo, rendang jengkol, oblo-oblo tempe peuteuy chilli hejo, kadedemes or stir fry sampeu, and others.

also read : Perkedel : Makanan Hasil “pernikahan” Indo-Eropa